Pages

Minggu, 31 Juli 2011

Mengenalkan Iptek Sejak Dini

Pusat Peragaan Ilmu dan Teknologi (PP-IPTEK) Kementerian Riset dan Teknologi mengadakan roadshow "Science for All" untuk mengenalkan ilmu dan teknologi kepada para siswa sejak dini. Direktur PP-IPTEK, Sukro Muhab mengatakan, kegiatan tersebut untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-16, yang akan dilaksanakan di Pusat Penelitian Iptek Serpong, Banten, pada 10-12 Agustus 2011.
"Kami membangun suatu paradigma baru, bahwa yang namanya ilmu itu bukan sesuatu yang sangat menakutkan, tetapi dengan cara peragaan justru akan dekat dengan para siswa," kata Sukro di sela roadshow di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu, Nur Hidayah, Solo, Jawa Tengah, Senin (25/7/2011).
Dengan adanya roadshow Science for All  diharapkan bisa mengenalkan ilmu dan teknologi kepada para siswa, sehingga mereka termotivasi untuk mempelajari Iptek dengan baik. "Para siswa melalui Science for All ini, dikenalkan dengan ilmu dan teknologi yang sedang berkembang saat ini. Di antaranya, bagaimana cara kerja roket air. Mereka akan melihat langsung peragaan cara kerja roket air," katanya.
Selain itu, para siswa juga melihat langsung demo ilmu pengetahuan bagaimana dia mengetahui tentang sistem pelarut, bukan hanya bahan air saja, tetapi dengan nitrogen. Sehingga, fenomena-fenomena tentang ilmu pengetahuan yang biasa jauh dari kelas didekatkan dengan memberikan peragaan langsung.
Menurut dia, selain kegiatan demo spektakuler, Science for All juga akan diisi dengan bincang teknologi populer dengan mengundang pakar nano teknologi dari Universitas Gadjah Mada, DR Yatman Aryanto. Pakar dari UGM ini akan berbincang dengan para siswa, tentang bagaimana dan apa nano teknologi itu. Keberadaan nano teknologi dalam kehidupan ternyata ada di sekitar manusia.
"Karena, pemahaman hal itu tidak diberikan kepada anak-anak seolah-olah ilmu itu, sangat jauh dari harapan mereka," katanya.
Oleh karena itu, Kemristek ingin mengajak anak-anak atau para siswa itu, supaya sejak dini kreatif dan inovatif  dalam penguasaan materi-materi yang sifatnya ilmu dan teknologi.
"Kami juga berkomitmen besar mengenalkan sejak dini kepada para pelajar. Saya berharap lomba-lomba pada 17 Agustus, jenisnya tidak hanya seperti pada abad 19, tetapi ada pengembangan menjadi lomba roket air atau ilmu dan teknologi yang berbasis kemasyarakatan lainnya," katanya.
Kegiatan roadshow akan dilakukan di beberapa kota, diantaranya Yogyakarta, Bekasi, Slawi, Kudus, dan daerah lainnya di Pulau Jawa.

Pendidikan Kita Masih “Dihantui” Krisis

Pendidikan di Indonesia saat ini masih mengalami krisis, baik krisis secara logistik maupun fungsional. Keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Pendidikan yang mengurung mereka di dalam kelas dan membuat mereka takut menghadapi kenyataan di lapangan.
– Paulus Wirutomo
Demikian diungkapkan Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, dalam diskusi publik “RAPBN 2011: Anggaran, Proyeksi Pengembangan Bangsa”, di Jakarta, Kamis (12/8/2010). Paulus mengatakan, krisis logistik menyangkut masalah pendanaan dan fasilitas, sementara krisis fungsional menyoal pada tujuan hakiki dari pendidikan itu sendiri.
“Tujuan hakiki pendidikan adalah membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, memberikan kemandirian, mengembangkan kesadaran tentang hak dan kewajiban warga negara, serta pengembangan moral, etika, dan estetika,” ujarnya.
Paulus menilai, pendidikan di Indonesia belum mampu memberi kebebasan bagi setiap warganya. Dia mencontohkan, semakin banyak lulusan sarjana strata satu (S-1) yang tidak mendapatkan pekerjaan, kemudian melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi dan seterusnya. Kondisi ini, kata dia, justru akan memupuk rasa ego yang tinggi di dalam diri ketika memandang sebuah pekerjaan.
“Pendidikan yang mengurung mereka di dalam kelas dan membuat mereka takut menghadapi kenyataan di lapangan,” tutur Paulus.
Guru Besar UI itu kemudian memaparkan, jika kita tidak mampu mencapai pada pendidikan yang hakiki, maka kita akan jatuh kepada, antara lain; ritualisme pendidikan (hanya menjalankan keseharian di dalam kelas), pemborosan biaya, pedagogihitam (sekolah sebagai tempat pengadilan) yang akan menampik pilihan yang ada di masyarakat layaknya multiple choice.
“Contoh kasusnya adalah ujian nasional (UN). Apakah tujuannya sesuai dengan fungsi pendidikan?” ujar Paulus.
Kompas.Com

Materi Pendidikan Anak

Tanyakan pada anak-anak tentang cita-cita mereka di masa depan! Kemungkinan jawaban mereka beragam, ingin jadi dokter, insinyur, arsitek, pilot, pembalap, atau profesi lain yang akrab dengan kehidupan mereka. Namun beberapa saat kemudian mereka berubah pikiran, ingin menjadi yang lain.
Itulah anak-anak. Dengan bebasnya mereka menyampaikan keinginannya tanpa takut untuk didebat orang lain. Tanpa ragu dengan sesekali diselingi gelak tawa lepas, mereka menjelaskan dokter itu siapa dan bagaimana dia bekerja sesuai dengan pemahaman mereka yang sederhana.
Pemahaman mereka tentang sesuatu diperoleh dari orang-orang di sekitarnya atau dari televisi yang saat ini telah menjadi sahabat dekat. Jika tidak bermain di rumah, mereka lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi.
Sebagian orang tua merasa tenang jika anaknya berada di rumah dan tidak melakukan sesuatu yang membahayakan. Tapi sebagian orang tua yang lainnya merasa khawatir karena anak-anaknya selalu sibuk dengan tontonannya tanpa memedulikan hal lain.
Lalu para orang tua memikirkan berbagai cara agar anak-anaknya dapat berkembang dengan normal dan dapat mengembangkan bakatnya dengan baik. Apapun akan mereka tempuh agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang maksimal.

Para orang tua merasa kurang cukup jika anaknya hanya bersekolah formal saja. Mereka memilih beberapa sekolah tambahan untuk mengembangkan kemampuan atau menambah jam belajarnya. Bahkan tidak sedikit orang tua yang menyekolahkan anaknya dari usia 6 bulan.
Usaha mereka untuk mengenalkan anak-anak pada dunia pendidikan perlu diacungi jempol. Bukan saja tenaga, mereka pun tidak peduli kalau harus mengeluarkan biaya banyak untuk pendidikan anak-anaknya.
Tapi sebetulnya, apakah materi pendidikan anak itu hanya bisa diperoleh di luar rumah? Apakah materi pendidikan dari orang tua tidak dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita anaknya?
Ada sebuah ungkapan bahwa seorang ibu itu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Seorang ibu harus mulai mendidik dan mengajarkan sesuatu pada anak-anaknya saat mereka masih dalam kandungan, dan tentunya hal itu dilakukan juga oleh suaminya.
Apapun cita-cita mereka nanti, seorang ibu harus membekalinya dengan materi pendidikan yang sungguh mulia sebagai fondasi kuat yang mampu menopang mereka di masa depan. Karena pada dasarnya, para orang tua bercita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak shalih dan shalihah. Walaupun di masa depan nanti anak-anak itu menjadi seorang dokter, maka dokternya adalah dokter yang shalih dan shalihah.
Jadi, orang tua tidak perlu bingung akan materi pendidikan Islami yang bisa mereka terapkan sejak dini pada anak-anak. Kita bisa mengutip materi pendidikan yang diberikan Luqman pada putranya setelah Luqman dianugerahi hikmah oleh Allah SWT. Semuanya tertuang dalam Alquran surat Luqman [31] ayat 12-19.
Hikmah yang bisa kita ajarkan pada anak-anak adalah untuk tidak menyekutukan Allah SWT. Orang tua memperkenalkan anak kepada Allah SWT melalui kekuasaan dan keagungan-Nya dalam menciptakan alam semesta dan seluruh isinya.
Cara itu dilakukan agar anak terbiasa untuk mensyukuri segala nikmat yang mereka terima melalui orang tuanya. Dan untuk itu, mereka juga diajari untuk selalu berterima kasih kepada orang tua, mematuhi mereka jika mengajak kepada kebaikan, dan tidak mengikutinya jika mengajak kepada perbuatan dosa, tetapi tetap bergaul dan berkomunikasi secara baik.
Menganjurkan anak untuk selalu berbuat baik dan menanamkan akhlak mulia adalah materi wajib yang harus diajarkan orang tua kepada anak-anaknya. Hal itu harus ditunjang sepenuhnya oleh orang tua sebagai teladan bagi anak-anaknya. Perhatian mereka pun harus penuh dalam memberikan pendidikan ruhani, jasmani, dan kognisi, agar perkembangan anak menjadi lebih baik dan seimbang.
Harapan kita di masa depan adalah munculnya generasi muda yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, berbakti kepada orang tua, dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Itulah pekerjaan rumah yang membutuhkan proses panjang bagi para orang tua agar cita-cita mereka dan anak-anak tercapai.

Sabtu, 30 Juli 2011

Remaja & Narkoba

oleh : Marsella Retno Asih 

Masalah utama remaja berawal dari pencarian jati diri. Mereka mengalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan ke dalam kelompok anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar untuk dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Hal ini merupakan masalah bagi setiap remaja di belahan dunia ini.
Oleh karena pergumulan di masa remaja ini, maka remaja mempunyai kebutuhan sosialisasi yang seoptimal mungkin, serta dibutuhkan pengertian dan dukungan orangtua dan keluarga dalam kerentanan di masa remaja.
Bila kebutuhan remaja kurang diperhatikan, maka remaja akan terjebak dalam perkembangan pribadi yang “lemah”, bahkan dapat dengan mudah terjerumus ke dalam belenggu penyalahgunaan narkoba.
Hingga sekarang, penyalahgunaan narkoba semakin luas di masyarakat kita, terutama semakin banyak di kalangan para remaja yang sifatnya ingin tahu dan ingin coba-coba. Banyak alasan mengapa banyak yang terjerumus ke bahan terlarang dan berbahaya ini kemudian tidak mampu melepaskan diri lagi. Alasannya antara lain:
1. hal ini sudah dianggap sebagai suatu gaya hidup masa ini
2. dibujuk orang agar merasakan manfaatnya
3. ingin lari dari masalah yang ada, untuk merasakan kenikmatan sesaat
4. ketergantungan dan tidak ada keinginan untuk berhenti
..dan mungkin masih banyak alasan lainnya.
Ada baiknya kita mengintip sedikit tentang narkoba. Apa saja sih jenis-jenis narkoba? Menurut situs kespro dot info, pada dasarnya narkoba itu dibagi atas 4 kelompok, yaitu:
1. narkotika, terutama opiat atau candu.
2, halusinogenik, misalnya ganja atau mariyuana
3. stimulan, misalnya ekstasi dan shabu-shabu
4. depresan, misalnya obat penenang.
Masing-masing kelompok mempunyai pengaruh tersendiri terhadap tubuh dan jiwa penggunanya. Opiat, yang menghasilkan heroin atau “putauw†menimbulkan perasaan seperti melayang dan perasaan enak atau senang luar biasa, yang disebut euforia. Tetapi ketergantungannya sangat tinggi dan dapat menyebabkan kematian.
Marijuana atau ganja, yang termasuk
kelompok halusinogenik, mengakibatkan timbulnya halusinasi sehingga pengguna tampak senang berkhayal. Tetapi sekitar 40-60 persen pengguna justru melaporkan berbagai efek samping yang tidak menyenangkan, misalnya muntah, sakit kepala, koordinasi yang lambat, tremor, otot terasa lemah, bingung, cemas, ingin bunuh diri, dan beberapa akibat lainnya.
Bahan yang tergolong stimulan menimbulkan pengaruh yang bersifat merangsang sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan rangsangan secara fisik dan psikis. Ecstasy, yang tergolong stimulan, menyebabkan pengguna merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, ingin bergerak terus, sampai tidak ingin tidur dan makan. Akibatnya dapat sampai menimbulkan kematian.
Sebaliknya bahan yang tergolong depresan menimbulkan pengaruh yang bersifat menenangkan. Depresan atau yang biasa disebut obat penenang, dibuat secara ilmiah di laboratorium. Berdasarkan indikasi yang benar, obat ini banyak digunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Dengan obat ini, orang yang merasa gelisah atau cemas misalnya, dapat menjadi tenang. Tetapi bila obat penenang digunakan tidak sesuai dengan indikasi dan petunjuk dokter, apalagi digunakan dalam dosis yang berlebihan, justru dapat menimbulkan akibat buruk lainnya.
Apa akibat penyalahgunaan narkoba?
Pada dasarnya akibat penyalahgunaan narkoba dapat dibagi menjadi akibat fisik dan psikis. Akibat yang terjadi tentu tergantung kepada jenis narkoba yang digunakan, cara penggunaan, dan lama penggunaan.
Beberapa akibat fisik ialah kerusakan otak, gangguan hati, ginjal, paru-paru, dan penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik bergantian. Sebagai contoh, sekitar 70 persen pengguna narkoba suntikan di Cina tertular HIV/ AIDS. Di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus HIV/AIDS yang tertular melalui penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna narkotik tampak meningkat tajam. Akibat lain juga timbul sebagai komplikasi cara penggunaan narkoba melalui suntikan, misalnya infeksi pembuluh darah dan penyumbatan pembuluh darah.
Di samping akibat tersebut di atas, terjadi juga pengaruh terhadap irama hidup yang menjadi kacau seperti tidur, makan, minum, mandi, dan kebersihan lainnya. Lebih lanjut, kekacauan irama hidup memudahkan timbulnya berbagai penyakit.
Akibat psikis yang mungkin terjadi ialah sikap yang apatis, euforia, emosi labil, depresi, kecurigaan yang tanpa dasar, kehilangan kontrol perilaku, sampai mengalami sakit jiwa.
Akibat fisik dan psikis tersebut dapat menimbulkan akibat lebih jauh yang mungkin mengganggu hubungan sosial dengan orang lain. Bahkan acapkali pula merugikan orang lain. Sebagai contoh, perkelahian dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pelaku tidak berada dalam keadaan normal, baik fisik maupun psikis.
Narkoba yang Adiktif
Penggunaan narkoba dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan terhadap narkoba ternyata tidak mudah diatasi. Meski cukup banyak remaja yang berjuang untuk keluar dari ketergantungan narkoba, acap kali mereka jatuh kembali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan program substitusi obat dengan menggunakan metadon. Diharapkan dengan pemberian metadon ini penggunaan narkoba suntikan dapat dikurangi atau dihentikan. Penggunaan narkoba suntikan amat berisiko menularkan penyakit Hepatitis C dan HIV.
Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan angka kekerapan Hepatitis C di kalangan pengguna narkoba suntikan mencapai 77 persen. Sedangkan kekerapan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia berkisar antara 60 persen sampai 90 persen.
Dukungan Sangat Penting
Setelah beban fisik pengguna narkoba suntikan dapat diatasi, maka masih ada beban psikologis dan sosial. Beban psikologis dan sosial ini kadang-kadang amat berat sehingga dapat menyebabkan remaja kambuh kembali menggunakan narkoba suntikan. Oleh karena itu, perlu diwujudkan lingkungan yang mendukung. Di Indonesia lingkungan yang paling penting adalah keluarga. Kesediaan keluarga untuk menerima remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan di tengah keluarga merupakan dukungan yang amat berharga. Sebagian remaja dapat meneruskan pendidikannya dan memperoleh pekerjaan. Namun, sebagian lagi tak mungkin meneruskan sekolah dan harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus berjuang untuk hidup dengan bekal pendidikan yang terbatas.
Hendaknya kita dapat meningkatkan berbagai potensi yang ada di tengah masyarakat. Kita perlu bergandeng tangan untuk mencegah remaja menggunakan narkoba.
Adapun bagi remaja yang telah menggunakan diperlukan layanan yang terpadu untuk membawa mereka kembali ke tengah masyarakat. Layanan tersebut rumit dan memerlukan upaya jangka panjang, tetapi semua upaya itu patut kita kerjakan karena sebagian masa depan Indonesia ada di tangan mereka mereka

Jumat, 29 Juli 2011

Hubungan Sekolah dengan Masyarakat


Faktor Pendukung Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bisa berjalan baik apabila di dukung oleh beberapa faktor yakni:
·           Adanya proram dan perencanaan yang sistematis.
·           Tersedia basis dokumentasi yang lengkap.
·           Tersedia tenaga ahli, terampil dan alat sarana serta dana yang memadai.
·           Kondisi organisasi sekolah yang memungkinkan untuk meningkatkan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.
Fungsi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Fungsi pokok hubungan sekolah dengan masyarakat adalah menarik simpati masyarakat umumnya serta publik khususnya, sehingga dapat meningkatkan relasi serta animo pada sekolah tersebut. Hal ini akan membantu sekolah mensukseskan program-programnya. Sehingga mampu mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Fungsi hubungan sekolah dengan masyarakat diantarnya sebagai berikut :
·           Mengatur hubungan sekolah dengan orang tua.
·           Memelihara hubungan baik dengan komitte sekolah.
·           Memelihara dan mengembangkan hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga pemerintah, swasta dan organisasi nasional.
·           Memberi pengertian kepada masyarakat tentang fungsi sekolah melalui bermacam-macam tehnik komunikasi (majalah, surat kabar dan mendatangkan sumber).
Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun dengan tujuan popularitas sekolah di mata masyarakat. Popularitas sekolah akan tinggi jika mampu menciptakan program-program sekolah yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan dan cita-cita bersama dan dari program tersebut mampu melahirkan sosok–sosok individu yang mapan secara intelektual dan spiritual. Dengan popularitas ini sekolah eksis dan semakin maju. Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat diantaranya sebagai berikut:
·           Memberi penjelasan tentang kebijaksanaan penyelenggaraan sekolah situasi dan perkembangannya.
·           Menampung sarana-sarana dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah.
·           Dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antar warga sekolah sendiri.
Sedangkan menurut Mulyasa (2007: 50), tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: (1) memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik; (2) memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat; dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

Manfaat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Manfaat dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah menambah atau meningkatkan simpati masyarakat secara sadar dan sukarela yang dapat meningkatkan harga diri sekolah serta dukungan terhadap sekolah secar spiritual dan material atau finansial. Hal ini akan tampak sebagai berikut:
·           Adanya saling pengertian antara sekolah dengan pihak luar.
·           Adanya kegiatan yang membantu karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.
·           Adanya kerjasama yang erat dengan masing-masing pihak dan merasa ikut bertanggungjawab atas suksesnya usaha pihak lain.
Bentuk Opersional Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Tergantung pada inisiatif dan kreatifitas sekolah, kondisi dan situasi, fasilitas sekolah dan sebagainya.
·           Di bidang Sarana Akademik
Tinggi rendahnya prestasi lulusan (kualitas maupun kuantitas), penelitian, karya ilmiah (lokal, nasional, internasiona), jumlah dan tingkat kesarjanaan pendidiknya, sarana dan prasarana akademik termasuk laboratorium dan perpustakaan atau PSB, SB yang mutakhir serta teknologi instruksional yang mendukung PBM, termasuk ukuran prestasi dan prestise-nya.
·           Di bidang Sarana Pendidikan
Gedung atau bangunan sekolah termasuk ruang belajar, ruang praktikum, kantor dan sebagainya beserta perabot atau mebeuler yang memadai akan memiliki daya tarik tersendiri bagi popularitas sekolah.
·           Di bidang Sosial
Partisipasi sekolah dengan masyarakat sekitarnya, seperti kerja bakti, perayaan-perayaan hari besar nasional atau keagamaan, sanitasi dan sebagainya akan menambah kesan masyarakat sekitar akan kepedulian sekolah terhadap lingkungan sekitar sebagai anggota masyarakat yang senantiasa sadar lingkungan demi baktinya terhadap pembangunan masyarakat.
·           Kegiatan Karya Wisata
Kegiatan karya wisata juga bisa dijadikan sarana hubungan sekolah dengan masyarakat, seperti membawa spanduk serta atribut sekolah sampai keluar daerah menyababkan nama sekolah dapat dikenal lebih luas sampai luar kota. Bahkan tertib sopan santun para siswanya di perjalanan akan mendapat kesan tersendiri dari masyarakat yang disinggahi dan dilaluinya.
·           Kegiatan Olah Raga dan Kesenian
Juga dapat merupakan sarana hubungan sekolah dengan masyarakat, misalnya dalam porseni dan lomba antar sekolah akan membawa keunggulan sekolah dan membawa nama harum sekolah tersebut.
·           Menyediakan fasilitas sekolah untuk kepentingan masyarakat sekitar sepanjang tidak mengganggu kelancaran PBM, demikian sebaliknya fasilitas yang ada di masyarakat sekitarnya dapat digunakan untuk kepentingan sekolah.
·           Mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat dalam kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan masih banyak lagi kegitan operasional hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikreasikan sesuai situasi, kondisi serta kemampuan pihak-pihak terkait.
Sifat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Bahwa pada dasarnya hubungan sekolah dengan masyarakat haruslah bersifat pedagogis, sosiologis dan produktif yang dapat mendatangkan manfaat untuk kemajuan sekolah. Dan secara rinci dapat dijelaskan di bawah ini:
·           Hubungan timbal balik yang menghasilkan manfa’at bagi kedua belah pihak.
·           Hubungan yang bersifat suka rela berdasarkan prinsip bahwa sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan (integral) dari masyarakat.
·           Hubungan yang bersifat kontinyu atau berkesinambungan antara sekolah dengan masyarakat.
·           Hubungan keluar sekolah guna menambah simpati masyarakat terhadap sekolah.
·           Hubungan ke dalam sekolah menambah keyakinan mempertebal pengertian para civitas akademika tentang segala pemilikan material dan immaterial sekolah.

Jenis Kegiatan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat


Jenis Kegiatan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
·           Kegiatan Eksternal
Kegiatan ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada instansi atasan dan masyarakat di luar sekolah. Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan dalam hal ini yakni:
o          Indirect act adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyar\akat melalui perantara media tertentu seperti misalnya: informasi lewat televisi, penyebaran informasi lewat radio, penyebaran informasi melalui media cetak, pameran sekolah dan berusaha independen dalam penerbitan majalah atau buletin sekolah.
o          Direct act adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat melalui tatap muka, misalnya: rapat bersama dengan komitte sekolah, konsultasi dengan tokoh masyarakat, melayani kunjungan tamu dan sebagainya.
·           Kegiatan Internal
Kegiatan ini merupakan publisitas ke dalam, sasarannya adalah warga sekolah yang bersangkutan yaitu para pendidik, karyawan, dan peserta didik. Kegiatan ini juga dapat dilakukan dengan dua kemungkinan yakni:
o          Indirect act adalah kegiatan internal melalui penyampaian informasi melalui surat edaran; penggunaan papn pengumuman di sekolah; penyelenggaraan majalah dinding; menerbitkan buletin sekolah untuk dibagikan pada warga sekolah; pemasangan iklan/pemberitahuan khusus melalui mass media; dan kegiatan pentas seni.
o          Direct act adalah kegiatan internal yang dapat berupa: rapat dewan guru; upacara sekolah; karyawisata/rekreasi bersama; dan penjelasan pada berbagai kesempatan.

Tugas Pokok Hubungan Sekolah dengan Masyarakat


Tugas Pokok Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Tugas pokok hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain:
·           Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.
·           Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.
·           Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.
·           Membantu pemimpin dalam mengembangkan rencana dan kegiatan lanjutan yang berhubungan dengan pelaksanaaan kepada masyarakat sebagai akibat dari komunikasi timbal balik dengan pihak luar, yang ternyata menumbuhkan harapan untuk penyempurnaaan kegiatan yang telah dilakukan oleh organisasi.
·           Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.
·           Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.
·           Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan.
·           Menunjukkan pergantian keadaan pendapat umum.

Asas Kerja Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
·           Obyektif dan Resmi
Semua informasi atau pemberitaan yang disampaikan kepada masyarakat harus merupakan suara resmi dari instansi atau lembaga yang bersangkutan.
·           Organisasi yang tertib dan berdisiplin
Hubungan sekolah dengan masyarakat hanya akan berfungsi bilamana tugas-tugas organisasi atau lembaga berjalan secara lancar dan efektif serta memiliki hubungan kerja ke dalam dan ke luar organisasi yang efektif pula.
·           Informasi harus bersikap mendorong timbulnya keinginan untuk ikut berpartisipasi atau ikut memberikan dukungan secara wajar dari masyarakat.
·           Kontinuitas informasi
Hubungan sekolah dengan masyarakat harus berusaha agar masyarakat memperoleh informasi secara kontinu sesuai dengan kebutuhan.
·           Respon yang timbul di kalangan masyarakat umpan balik dari informasi yang disampaikan harus mendapat perhatian sepenuhnya.